Indonesia Menghadapi Perdagangan Bebas 2010

Posted: 12 Januari 2010 in ekonomi, Uncategorized

JAKARTA-Tak ada penundaan free trade agreement (FTA) atau perjanjian perdagangan bebas yang mulai berlaku 1 Januari 2010, namun pemerintah akan menegoisasi pemberlakuan terhadap 303 produk dari 8 sektor industri.
Demikian dikemukakan oleh Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Perindustrian, Edy Putra Irawadi, kemarin. ’’Ada 303 produk yang masih minta pengentasan. Itu masih ditunda dari total 2.500-an produk. Tapi tidak akan ada penundaan FTA, kita harus jalan,’’ tandasnya.

Pemerintah, lanjut dia, akan menegoisasi pemberlakuan FTA pada 303 produk tersebut. Rencananya, negoisasi dilakukan melalui surat yang dikirim kepada negara mitra baik regional, yakni ASEAN, maupun bilateral, antara lain China.
’’Kita minta modifikasi. Sekarang mereka sedang mencarikan kompensasinya untuk komoditas lain. Bergantung pada inisiatif prinsipalnya, contohnya buah tak mungkin hanya dengan Singapura, tapi dengan China,’’ jelasnya.

Sekjen Departemen Perindustrian, Agus Tjahayana, memaparkan ada 12 subsektor industri yang meminta penundaan pemberlakuan FTA. Mereka adalah makanan dan minuman, kimia hulu yang terdiri atas petrokimia dan kimia anorganik dasar, kimia hilir, hasil hutan dan perkebunan, besi dan baja, serta tekstil. Selain itu, aneka alas kaki, aneka mainan, aneka alat dan perlengkapan olahraga, aneka barang jadi kulit, elektronika, dan produk maritim. ’’Usulan perubahan ada 303 produk dari 8 sektor industri dari total pos produk 2.528,’’ jelas Agus.
Masukan Wakil Menteri Perdagangan, Mahendra Siregar, menegaskan meski tidak ada rencana penundaan pelaksanaan FTA, pemerintah tetap menampung masukan pengusaha yang meminta penundaan. ’’FTA tetap jalan, tapi sementara itu concern dari pengusaha ditampung. Di lain pihak, perbaikan di dalam negara juga jalan terus,’’ tambahnya.

Menurut dia, ada beberapa masukan mengenai dampak yang dirasakan industri terhadap pemberlakuan perdagangan bebas. (J10-27)

NILAH.COM, Jakarta – Membanjirnya barang impor dari China menyusul kesepakatan FTA Asean-China, sejak 1 Januari pekan lalu, tak perlu dikhawatirkan. Pemerintah sudah siapkan safeguard jika produk impor melampaui batas.

Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengharapkan pelaku industri tidak khawatir berlebihan terkait diberlakukannya Free Trade Agreement Asean China (FTA Asean-China). Jika impor China mengganggu pasar lokal, pemerintah siap menerapkan safeguard sebagai instrumen pelindung.

Kongkritnya, jika barang impor dari China mengganggu 30% pangsa pasar produk dalam negeri, akan dikenakan bea masuk yang tinggi. “Dengan sendirinya produk tersebut akan berkurang di pasar kita,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (10/1).

Putu mencontohkan pangsa pasar sepatu di Indonesia dalam setahun mencapai 1.000 pasang. Ternyata sepatu asal China berjumlah 400 pasang. “Ini sudah malampaui 30% sehingga bisa dikenakan safeguard dengan tarif bea masuk lebih tinggi,” ujarnya.

Lebih jauh, Putu mengatakan FTA merupakan satu komitmen Indonesia dalam perdagangan dunia. Untuk meningkatkan daya saing, Putu menyarankan pelaku industri dalam negeri tidak memproduksi barang-barang yang sama dengan produk China. Tujuannya, agar Indonesia bisa memanfaatkan FTA. “Karena dengan FTA, produk-produk kita juga bebas masuk ke China,” paparnya.

Mengenai penerimaan bea masuk pada minggu pertama 2010 yang turun sekitar 48,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Putu tidak sependapat jika hal ini sebagai akibat diterapkannya FTA.

Penurunan itu didasarkan pada perhitungan kasar Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) melalui Kepala Biro Humas DJBC Evy Suhartantyo. Evy menyatakan penerimaan bea masuk hingga minggu pertama 2010 Rp136,65 miliar. Angka ini menurun 48,32% dari periode yang sama tahun lalu Rp264,42 miliar.

Gusti Putu kembali mengatakan FTA 2010 baru dimulai. Ia menyangsikan penerimaan bea masuk turun akibat diterapkannya FTA. “Pergerakan bisnis pun belum dimulai. Penurunan itu, terjadi karena faktor libur akhir 2009. Coba tiga bulan lagi kita lihat,” tukasnya.

Ia bahkan beranggapan, dengan diterapkannya FTA, penerimaan Bea Cukai justru akan naik. Sebab, akan lebih banyak barang yang masuk sehingga bea masuk pun menjadi bertambah. Karena itu, angka 48,32% itu menurutnya tidak bisa menjadi pegangan. “Angka itu tidak ada hubungannya dengan FTA. Setelah tiga bulan, baru bisa kita lihat,” timpalnya.

Putu juga mengharapkan bea masuk, seharusnya bukan untuk penerimaan negara melainkan sebagai instrumen pengembangan industri dalam negeri. Penerimaan negara seharusnya diambil dari pajak-pajak perusahaan dan bukan dari bea masuk. “Untuk barang-barang konsumsi boleh, tapi bukan untuk barang-barang modal. Meskipun, ada beberapa produk yang bea masuknya 0%,” ucapnya.

Di sisi lain, Fraksi Partai Golkar (FPG) meminta Presiden SBY menunda pelaksanaan FTA Asean-China. Sebab, dampaknya sangat merugikan industri manufaktur nasional. FTA menurut berpotensi meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan secara absolut.

Ade Komarudin Sekretaris Fraksi Partai Golkar melalui siaran persnya Minggu (10/1), mengatakan dengan dilaksanakannya FTA, industri manufaktur nasional yang selama ini dijadikan tulang punggung nasional untuk menyerap tenaga kerja akan tutup dengan sendirinya.

Industri manufaktur domestik tidak akan mampu bersaing dari serbuan produk-produk China. Akibatnya, angka pengangguran dan kemiskinan melonjak, karena maraknya PHK dan minimnya investasi di bidang industri manufaktur. “Bila ini terjadi, bukan tak mungkin akan memicu instabilitas nasional,” ungkapnya.

Karena itu, lanjut Ade, Partai Golkar meminta pemerintah menunda kesepakatan tersebut untuk kepentingan nasional yang lebih besar. “Negara-negara maju juga bersikap demikian, bila kepentingan nasonalnya terganggu. Lihat saja sikap AS dan negara-negara maju lainnya dalam perundingan WTO, mereka berusaha dan sangat melindungi kepentingan nasionalnya,” tandasnya.

Menurut Ade, FTA juga akan berdampak pada ketidakseimbangan neraca perdagangan antara China dan Indonesia. Menurutnya, Indonesia hanya mampu menjual bahan baku yang belum atau setengah diolah.

Sementara pemerintah China sangat agresif mendorong ekspor ke luar negeri dengan skema kebijakan yang mendorong industrinya bisa bersaing secara produktif. “Jadi antara ekspor dan impor kita akan timpang dengan sendirinya,” pungkasnya. [mdr]

Komentar
  1. susno duaji mengatakan:

    mantaf ee.. aq suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s