Satu Dekade (10 Tahun) Pasoepati

Posted: 9 Februari 2010 in Berita, olahraga
Tag:,

Siang itu, Minggu, 27 Desember 2009, segerombolan anak berkaos merah tampak berada di sekitaran lampu rambu lalu lintas di kawasan Delanggu, kabupaten Klaten. Keberadaannya adalah untuk mencari tumpangan gratis kendaraan yang akan membawa mereka sampai ke kota Solo. Baik truk, maupun mobil bak terbuka, satu per satu mereka datangi untuk sekedar meminta ijin menumpang. Jika tidak diijinkan, mereka pun berpindah ke mobil/truk lain yang juga tengah berhenti di lampu merah. Hari Minggu yang menjadi hari libur sekolah, menjadikan anak-anak tersebut bisa berkesempatan untuk hadir di kota Solo, menyaksikan dan memberikan dukungan langsung bagi tim sepak bola Persis Solo yang mana hari itu akan bertanding melawan Deltras Sidoarjo. PASOEPATI, itulah tulisan satu kata yang jelas terbaca di kaos merah yang mereka kenakan. PASOEPATI memiliki arti sebagai sebuah kelompok suporter sepak bola dari tim Persis Solo. Haru, meski nama PASOEPATI lebih identik dengan hiruk pikuk masyarakat kota Solo, namun di balik semua itu ternyata kebesaran nama PASOEPATI juga tidak lepas dari dukungan masyarakat kabupaten Klaten. Mungkin tidak hanya Klaten semata, tapi juga dukungan dari masyarakat kabupaten Boyolali, Salatiga, Karanganyar dan Sukoharjo. Dukungan luas dari berbagai daerah, menjadikan PASOEPATI sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia.

Tak tampak raut kecewa yang menghiasi wajah-wajah para Pasoepati yang hadir di stadion Manahan, meski sore itu tim Persis Solo harus puas bermain imbang tanpa gol melawan tamunya, Deltras Sidoarjo. Sebanyak 25 ribu suporter datang ke stadion termegah di kota Solo, untuk membuat merah setiap sudut stadion Manahan. Hasil buruk yang dicapai tim kebanggaannya, tidak lantas membuat Pasoepati bertindak anarki. Mereka pun dengan tertib mulai meninggalkan bangku Manahan ketika senja petang mulai datang.

SEJARAH BERDIRINYA PASOEPATI
Tidak ada yang menyangka sebelumnya, tim elite Pelita Jaya akan bermarkas di stadion Manahan Solo, 10 tahun yang lalu. Kedatangannya cukup membuat kaget publik Solo yang ketika itu tengah berduka pasca dibubarkannya klub lokal, Arseto, pada tahun 1998. Atmosfer sepak bola pun sontak kembali menggeliat di kota budaya. Pelita pun juga meresponnya dengan mengganti namanya menjadi Pelita Solo, menghapus kata “Jaya” yang sebelumnya identik melekat. Dahaga warga Solo akan tontonan sepak bola selevel Liga Indonesia akhirnya terobati. Adalah laga Pelita Solo melawan Arema Malang yang menjadikan pertandingan tersebut begitu bermakna bagi kelahiran Pasoepati. Sore itu, dalam lanjutan kompetisi Liga Bank Mandiri, tuan rumah Pelita Solo ditantang tamunya klub asal Malang, Arema. Kedatangan Arema ke lapangan Manahan, diikuti dengan kedatangan Aremania (suporter Malang) ke kota Solo. Warna biru pun sempat terlihat di tribun stadion ketika pertandingan berlangsung. Apa respon masyarakat Solo dengan kedatangan tamunya tersebut?

Decak kagum dan takjub rasanya menjadi kalimat yang pas untuk menggambarkan wajah-wajah penonton Solo ketika itu. Atraksi Aremania di tribun penonton dalam mendukung timnya, pantas mendapatkan acungan jempol. Gerak tari, nyanyian lagu dan dentuman alat-alat musik yang dibawakan Aremania secara padu, ternyata mampu membuat penonton lain seolah tersihir. Selain sajian tontonan utama pertandingan Pelita Solo melawan Arema Malang, ternyata suporter Malang tersebut malah mampu memberikan sajian tontonan tambahan dari bangku stadion. Masyarakat Solo pun iri melihat kesuksesan suporter Malang yang telah berhasil “menyihir” penonton Solo dengan aksi-aksinya atraktifnya. Selepas pertandingan berakhir, desas-desus obrolan warga Solo pun berhembus kencang, apalagi kalau bukan obrolan tentang aksi Aremania di tribun Manahan. Di beberapa warung angkringan, pos ronda maupun di tempat tongkrongan, semua orang saling membicarakan aksi Aremania. Merespon keinginan masyarakat yang menginginkan adanya suporter Solo yang kreatif dan atraktif seperti Aremania, beberapa hari kemudian warga Solo mengadakan rapat pertemuan yang dihadiri oleh beberapa tokoh penting dari kalangan profesional dan warga Solo pecinta sepak bola. Pertemuan tersebut diadakan dengan tujuan untuk membahas rencana pembentukan sebuah wadah suporter dari Solo.

Rabu, 9 Februari 2000, bertempat di Griya Reka yang berlokasi di jalan Kolonel Sugiyono 37 Solo, kelompok suporter Solo pun resmi didirikan. Nama Pasoepati yang berarti Pasukan Soeporter Pelita Sejati, menjadi nama yang dipilih untuk melabeli suporter Pelita Solo kala itu. Berdirinya Pasoepati berarti mengikuti langkah kota Malang yang telah lebih dulu mempunyai kelompok suporter bernama Aremania. Respon masyarakat terhadap berdirinya kelompok suporter Pasoepati terbilang sangat luar biasa. Selang beberapa hari setelah Pasoepati resmi berdiri, aksesoris suporter bertuliskan Pasoepati mulai terlihat dijual di sekitar kawasan komplek Gelora Manahan, Solo. Mulai dari kaos, bendera, syal maupun topi, ludes terjual dalam waktu singkat. Mengenakan kaos merah bertuliskan PASOEPATI, seakan telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Solo ketika itu. Animo masyarakat dalam menyaksikan tim Pelita Solo bertanding di stadion Manahan pun semakin mengalami lonjakan. Terbukti, setiap laga Pelita Solo di stadion Manahan selalu dibanjiri oleh warga Solo yang berbondong-bondong untuk menyaksikan secara langsung tim Pelita bertanding. Setiap sudut tribun tidak menyisakan ruang kosong untuk sekedar meluruskan kaki, semua tampak penuh dengan penonton yang sudah resmi dinamai PASOEPATI. Bahkan, lintasan lari di tepi lapangan yang seharusnya menjadi area steril pertandingan, terpaksa harus diisi oleh ribuan Pasoepati akibat tidak mendapatkan tempat duduk di atas tribun. Kibaran bendera-bendera merah bertuliskan PASOEPATI, menjadi pemandangan baru di dalam stadion Manahan ketika itu.

Yah, PASOEPATI telah berhasil menjadi alat pemersatu puluhan ribu warga Solo dan sekitarnya untuk bisa saling bersatu, saling bahu-membahu mendukung sebuah tim sepak bola yang bisa membuat bangga kota Solo tercinta.

DEKADE PASOEPATI
Hari ini, Selasa, 9 Februari 2010, menjadi hari yang sangat bersejarah bagi kelompok suporter Pasoepati. Sembilan Februari ini diperingati sebagai hari ulang tahun satu dekade (10 tahun) Pasoepati. Sebagai kelompok suporter yang tergolong cukup tua, Pasoepati telah banyak mengalami perubahan diri dari pertama kali berdiri hingga saat ini. Perubahan yang paling mencolok yakni perubahan tim sepak bola yang didukung. Pelita Solo menjadi andil terbesar berdirinya Pasoepati sekaligus menjadi tim pertama yang didukung. Setelah Pelita hengkang dari Solo, Pasoepati kembali mendukung tim “indekos”, Persijatim Solo FC. Nostalgia Pasoepati dengan Persijatim Solo FC hanya berlangsung selama 3 tahun. Mulai tahun 2006, Pasoepati secara resmi memproklamirkan kesetiaannya memberi dukungan untuk tim lokal daerahnya sendiri, Persis Solo, yang ketika itu masih “megap-megap” di kompetisi divisi satu.

Usia 10 tahun menjadikan Pasoepati sebagai salah satu kelompok suporter tua di Indonesia. Banyak pelajaran dan pengalaman penting yang didapat seiring berjalannya usia Pasoepati dari angka nol hingga kesepuluh, tahun ini. Meski saat ini Pasoepati hanya mendukung tim sepak bola yang berkompetisi di kasta kedua, namun Pasoepati tetaplah menjadi salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia, sejajar dengan Aremania (Malang) maupun The Jakmania (Jakarta). Animo masyarakat Solo dan sekitarnya akan keberadaan Pasoepati, terbilang masih cukup tinggi. Buktinya, setiap kali tim Persis Solo bertanding, stadion Manahan masih tampak selalu penuh dibanjiri warga Solo dan sekitarnya. Menarik memang, meski hanya berlaga di kompetisi kasta kedua Indonesia, Persis Solo selalu ditonton oleh suporter Pasoepati yang berjumlah sekitar 15 ribu hingga 25 ribu per pertandingan. Jumlah angka penonton yang cukup fantastis untuk level kompetisi kasta kedua/divisi utama Liga Indonesia.

Selama masa 10 tahun yang telah terlewati, masa-masa keemasan Pasoepati terjadi pada awal mula Pasoepati didirikan, yakni pada tahun 2000. Ketika itu, suporter Solo sering kali menjadi pusat perhatian media untuk dijadikan pemberitaan nasional akan aksi-aksi atraktif dan kreatifnya dari tribun penonton. Ya, lewat kejelian seorang Mayor Haristanto, Presiden Pasoepati yang pertama, nama Pasoepati mulai menjadi besar dan meroket sebagai pioner lahirnya kelompok-kelompok suporter kreatif di berbagai daerah.

Namun sayang, diusianya yang ke-10 ini bisa dibilang Pasoepati telah mengalami kemunduran yang luar biasa hebatnya. Baik kemunduran dari segi kuantitas maupun kualitas kelompok suporternya. Dari segi kuantitas, telah banyak orang yang menanggalkan statusnya sebagai seorang suporter Pasoepati. Entah karena mereka merasa malu karena tim yang didukungnya hanyalah tim divisi utama ataukah karena tim yang didukung hanyalah tim “pupuk bawang” yang sering mengalami kekalahan dalam setiap pertandingan. Animo massa Pasoepati telah jauh berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya yang selalu menjejali stadion Manahan hingga 50 ribu orang, melebihi kapasitas stadion yang hanya sanggup menampung 30 ribu orang. Dari segi kualitas, Pasoepati saat ini telah jauh berbeda dengan Pasoepati sebelumnya. Pasoepati belum mampu meninggalkan kebiasaan melempar benda-benda ke lapangan, yang notabenenya hanya akan mengganggu jalannya pertandingan dan berujung dengan sanksi. Contoh terbaru adalah masuknya 2 kembang api ke lapangan ketika Persis Solo melawan Persiba Bantul dan Pro Duta FC beberapa waktu yang lalu. Pelemparan benda ke lapangan tentu saja didasari oleh kekesalan Pasoepati, mungkin terhadap wasit, pemain lawan ataupun karena hasil pertandingan. Tapi, apakah harus seperti itu yang harus dilakukan? Kualitas unjuk diri yang dilakukan Pasoepati seharusnya meningkat dari hari ke hari, pertandingan satu ke pertandingan lainnya. Sudah saatnya Pasoepati meninggalkan nyanyian-nyanyian hina, meninggalkan pelemparan benda, meninggalkan perkelahian antar sesama dan menggantinya dengan atraksi yang menarik dari tribun stadion.

Pasoepati harus lebih banyak berbenah diri, saling introspeksi dan mengkoreksi. Pasoepati bukanlah kelompok suporter yang didirikan kemarin sore, yang harus dituntun untuk menemukan dan mencapai tujuan visi misi kelompok suporternya. Pasoepati harus bergerak sendiri, belajar dan terus belajar untuk menjadikan dirinya sebagai sebuah kebanggaan daerah asalnya (Solo). Pasoepati bukanlah kelompok suporter terbaik di negeri ini, tapi Pasoepati adalah kelompok suporter yang selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi. Pasoepati harus benar-benar bisa mentransformasikan dirinya sebagai suporter yang benar-benar dewasa, sportif, anti anarki dan tidak mudah terprovokasi.

Akhirnya,
SELAMAT ULANG TAHUN KE-10 kepada kelompok suporter PASOEPATI. Semoga semakin maju, sportif, cinta damai, anti anarki dan anti provokasi. Semoga semakin kaya akan kreatifitas dan aksi-aksi menarik yang pantas tersajikan!

–onengisme– (pasoepati.net)

Komentar
  1. Adjiwae Winata mengatakan:

    Terima kasih sudah mempublish di blog kamu artikel yang aku tulis, “Satu Dekade (10 Tahun) Pasoepati.”

    Serta telah bersedia menyertakan nama saya dan url pasoepati.net sebagai sumber artikelnya.

    Salam,
    Adjiwae Onengisme
    tim admin http://pasoepati.net

  2. adiya89 mengatakan:

    Sips lah bost… td kok g keliatan di Sriwedari? ndelix po? hehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s